Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sering dibicarakan sebagai teknologi yang akan mengubah hampir seluruh aspek kehidupan. Dari cara manusia bekerja, menemukan obat, mengelola bisnis, hingga memprediksi bencana. Namun di tengah euforia tersebut muncul pertanyaan yang semakin penting: bisakah AI membantu manusia menghadapi perubahan iklim?
Jawabannya, menurut penelitian yang dirangkum oleh Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment di London School of Economics and Political Science (LSE), cukup menjanjikan.
Penelitian yang dipublikasikan pada 23 Juni 2025 tersebut memperkirakan bahwa penerapan AI di sektor listrik, pangan, dan transportasi berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca global sebesar 3,2–5,4 miliar ton CO₂e setiap tahun pada 2035. Ketiga sektor tersebut secara keseluruhan menyumbang hampir setengah emisi global.
Namun ada satu catatan penting: AI tidak otomatis menjadi teknologi hijau.
Manfaatnya sangat bergantung pada bagaimana teknologi ini dikembangkan, digunakan, dan diarahkan.
AI dan Paradoks Energi
Ada ironi besar dalam hubungan antara AI dan perubahan iklim.
Di satu sisi, AI dapat membantu mengurangi emisi. Di sisi lain, AI sendiri membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Model AI dijalankan melalui pusat data (data center) yang membutuhkan listrik untuk mengoperasikan server sekaligus sistem pendinginnya. Semakin besar model dan semakin banyak penggunaannya, semakin besar pula kebutuhan komputasinya.
Karena itu, pertanyaan mengenai AI dan iklim tidak cukup dijawab dengan mengatakan bahwa AI adalah teknologi yang efisien.
Yang lebih penting adalah melihat berapa banyak emisi yang dapat dihemat AI dibandingkan emisi tambahan yang muncul akibat penggunaan AI itu sendiri.
Penelitian yang dirangkum LSE memberikan indikasi menarik. Perkiraan pengurangan emisi dari sektor listrik, pangan, dan transportasi dinilai dapat melampaui peningkatan emisi yang berasal dari konsumsi listrik pusat data akibat aktivitas AI secara global.
Dengan kata lain, AI berpotensi menghasilkan net climate benefit jika diterapkan pada persoalan yang tepat.
Lima Cara AI Membantu Transisi Iklim
Penelitian tersebut mengidentifikasi lima area utama di mana AI dapat membantu menghadapi perubahan iklim.
Pertama adalah mengubah sistem yang kompleks.
Sistem energi, transportasi, pangan, dan perkotaan memiliki begitu banyak variabel sehingga sulit dioptimalkan hanya dengan metode konvensional. AI dapat menganalisis data dalam jumlah besar dan menemukan pola yang tidak mudah terlihat oleh manusia.
Kedua adalah mempercepat penemuan teknologi dan meningkatkan efisiensi sumber daya.
AI dapat membantu peneliti menemukan material baru, mengoptimalkan desain teknologi energi terbarukan, serta mengurangi penggunaan bahan baku dan energi.
Ketiga adalah mendorong perubahan perilaku.
AI dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi yang lebih personal kepada masyarakat, perusahaan, maupun pemerintah. Misalnya, sistem dapat membantu konsumen memilih produk dengan jejak karbon lebih rendah atau membantu pengguna mengurangi konsumsi energi.
Keempat adalah memodelkan sistem iklim dan kebijakan.
Pemerintah dapat menggunakan AI untuk mensimulasikan berbagai skenario kebijakan. Dengan demikian, sebelum sebuah kebijakan diterapkan, pemerintah dapat memperkirakan konsekuensi ekonominya, dampaknya terhadap emisi, hingga kelompok masyarakat yang kemungkinan terkena dampak.
Kelima adalah meningkatkan ketahanan dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Ini menjadi salah satu aplikasi AI yang sangat penting bagi negara seperti Indonesia.
AI dapat membantu meningkatkan sistem peringatan dini untuk banjir, kebakaran hutan, cuaca ekstrem, dan berbagai bencana lainnya. Dengan prediksi yang lebih baik, masyarakat dan pemerintah memiliki waktu lebih panjang untuk melakukan evakuasi atau mengambil tindakan mitigasi.
Energi: Membuat Listrik Terbarukan Lebih Cerdas
Salah satu potensi terbesar AI berada di sektor energi.
Energi terbarukan seperti matahari dan angin memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembangkit konvensional. Produksinya bergantung pada kondisi alam yang berubah-ubah.
Matahari tidak bersinar sepanjang hari. Kecepatan angin juga tidak selalu sama.
AI dapat membantu memprediksi produksi listrik dan mengoptimalkan distribusinya ke jaringan listrik.
Menurut penelitian tersebut, AI berpotensi meningkatkan efisiensi sistem energi terbarukan dengan mengoptimalkan pengelolaan jaringan listrik. Bahkan, penggunaan AI dapat meningkatkan load factor pembangkit tenaga surya dan angin hingga sekitar 20 persen.
Ini penting karena masa depan energi bersih bukan hanya tentang membangun lebih banyak panel surya dan turbin angin.
Kita juga membutuhkan jaringan listrik yang lebih pintar.
Dalam konteks ini, AI berfungsi sebagai otak yang membantu sistem energi memahami kapan listrik diproduksi, kapan permintaan meningkat, dan bagaimana listrik harus didistribusikan.
Pangan: AI Bisa Mengubah Apa yang Kita Makan
Sektor pangan juga menjadi bagian penting dari transisi iklim.
Produksi makanan membutuhkan lahan, air, energi, dan menghasilkan emisi. Karena itu, perubahan kecil dalam cara manusia memproduksi dan mengonsumsi makanan dapat menghasilkan dampak besar.
Salah satu contoh yang dibahas dalam penelitian adalah penggunaan AI untuk meningkatkan adopsi alternative proteins, seperti protein berbasis tumbuhan atau sumber protein alternatif lainnya.
Dalam skenario business as usual, tingkat adopsi alternatif protein diperkirakan sekitar 8–14 persen. Dengan skenario AI yang ambisius, angka tersebut dapat meningkat menjadi 18–33 persen. Bahkan dalam skenario AI yang sangat ambisius, adopsinya dapat mencapai 27–50 persen.
AI dapat membantu proses tersebut melalui pengembangan produk, optimasi formulasi makanan, analisis preferensi konsumen, hingga efisiensi produksi.
Ini menunjukkan bahwa dampak AI terhadap iklim tidak selalu berbentuk robot atau mesin futuristik.
Kadang dampaknya justru terjadi melalui sesuatu yang sangat sederhana: apa yang manusia makan setiap hari.
Transportasi: Mengoptimalkan Pergerakan Manusia
Transportasi merupakan sektor lain yang memiliki peluang besar.
AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan rute kendaraan, memprediksi permintaan transportasi, mengatur lalu lintas, meningkatkan efisiensi logistik, dan membantu pengembangan kendaraan yang lebih efisien.
Bayangkan sebuah kota yang mampu mengetahui pola perjalanan jutaan orang secara real time.
Sistem AI dapat memperkirakan kapan kemacetan akan terjadi, mengatur lampu lalu lintas, mengoptimalkan distribusi kendaraan umum, dan membantu perusahaan logistik menentukan rute dengan konsumsi bahan bakar paling rendah.
Jika dilakukan dalam skala besar, penghematan kecil pada setiap perjalanan dapat berubah menjadi pengurangan emisi yang signifikan.
Indonesia: AI untuk Adaptasi, Bukan Sekadar Otomasi
Bagi Indonesia, bagian paling menarik dari penelitian ini mungkin bukan sekadar potensi pengurangan emisi.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan risiko yang beragam: banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, longsor, gelombang panas, hingga kenaikan muka laut.
Karena itu, AI dapat memainkan peran penting dalam adaptasi perubahan iklim.
Sistem AI dapat menggabungkan data satelit, cuaca, curah hujan, kondisi tanah, tutupan lahan, sungai, dan kepadatan penduduk untuk menghasilkan prediksi risiko yang lebih spesifik.
Misalnya, sistem tidak hanya mengatakan bahwa hujan ekstrem akan terjadi.
Sistem dapat mencoba menjawab pertanyaan yang jauh lebih berguna:
Wilayah mana yang kemungkinan terdampak? Berapa banyak penduduk yang berada di zona risiko? Jalan mana yang kemungkinan terputus? Dan kapan evakuasi harus dimulai?
Inilah titik ketika AI berubah dari sekadar teknologi produktivitas menjadi infrastruktur pengambilan keputusan.
Tetapi AI Tidak Boleh Diserahkan Sepenuhnya kepada Pasar
Di sinilah penelitian LSE memberikan peringatan yang sangat penting.
Pengembangan AI yang hanya mengikuti mekanisme pasar berisiko menghasilkan teknologi yang menguntungkan secara ekonomi tetapi tidak selalu menghasilkan manfaat ekologis.
Pemerintah tetap memiliki peran penting untuk mengarahkan investasi, membangun regulasi, mendukung inovasi, dan memastikan manfaat AI tidak hanya terkonsentrasi di negara-negara maju.
Risiko ketimpangan juga perlu diperhatikan.
Negara maju memiliki akses lebih besar terhadap komputasi, data, talenta AI, dan infrastruktur digital. Sementara negara berkembang dapat tertinggal jika hanya menjadi konsumen teknologi.
Karena itu, transisi AI dan transisi hijau seharusnya berjalan bersama.
Indonesia tidak cukup hanya membeli teknologi AI dari luar negeri. Kita juga perlu membangun kemampuan untuk mengembangkan, mengadaptasi, dan menerapkan AI sesuai persoalan lokal.
AI Bukan Pahlawan Iklim. Manusia Tetap Menentukan Arahnya.
Angka 3,2–5,4 miliar ton CO₂e per tahun terdengar sangat besar. Tetapi angka tersebut adalah potensi, bukan jaminan.
AI tidak akan menyelesaikan perubahan iklim dengan sendirinya.
Teknologi hanyalah alat.
Jika AI digunakan untuk meningkatkan konsumsi, mempercepat eksploitasi sumber daya, atau hanya mengejar efisiensi ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan, teknologi tersebut justru dapat memperburuk persoalan.
Sebaliknya, jika AI diarahkan untuk membangun jaringan energi yang lebih efisien, meningkatkan sistem peringatan dini bencana, mengurangi pemborosan pangan, mengoptimalkan transportasi, mempercepat inovasi teknologi hijau, dan membantu pemerintah membuat kebijakan yang lebih tepat, dampaknya dapat menjadi sangat besar.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi “Apakah AI bisa menyelamatkan iklim?”
Pertanyaannya adalah:
“Untuk apa kita memilih menggunakan AI?”
Sebab masa depan yang hijau tidak hanya membutuhkan kecerdasan mesin.
Ia membutuhkan manusia yang cukup bijaksana untuk menentukan ke mana kecerdasan tersebut diarahkan.
Sumber utama: Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment, London School of Economics and Political Science (LSE), Green and intelligent: the role of AI in the climate transition, 23 Juni 2025. Baca penelitian LSE